Rabu, 27 Oktober 2010

Surat Untuk Sahabat

Untuk Sahabat,

Hai apa kabar disana? Aku tau kita bicara hampir setiap hari, tapi nggak ada salahnya sekali-kali aku menulis surat untukmu kan? Ya, aku sedang rindu. Rindu kamu. Aku harap disana baik-baik saja, aku harap disana semuanya sehat, aku harap disana kamu senang. Disini kabarku baik, disini aku sehat, dan disini aku senang.

Rabu, 14 April 2010

Jangan Lupakan Aku Ya, Jendral?

Aku takut. Bagaimana tidak? Ketika aku kembali, bumi di tanah ini sudah berevolusi entah beberapa kali. Tidak akan ada yang sama. Tidak akan ada yang tinggal. Semuanya berubah, terseret waktu. Aku pun akan berubah, tak akan pernah pulang dengan menjadi aku yang sama seperti kupergi. Aku akan tetap menemukan seorang jedral memberi hormat tanpa lelah, tapi aku tak yakin setiap orang di kota ini akan sama. Menantiku pulang setelah perjalanan panjangku.

Orang-orang yang sekarang kukenal mungkin sudah berpergian ke tempat mereka akan berlabuh. Sahabat-sahabatku mungkin sudah menemukan sahabat baru, memberi tempat di hati mereka bagi orang-orang baru di kehidupan mereka yang berlanjut. Begitu juga aku. Ada hubungan-hubungan yang tak dapat dihapus oleh darah. Namun ada beberapa cara berbagi yang mungkin akan beradaptasi dengan jarak.

Ketika aku memutuskan untuk terbang. Aku harus tahu dan ikhlas bahwa sebuah kehidupan berjalan tanpa aku. Membiarkan seseorang mengambil tempat dimana kau seharusnya berada. Menduduki kursi yang biasanya kau duduki dan mengisi ruang di hati-hati orang yang tinggal. Sepertinya itu tidak mudah. Tapi itu pilihan. Dan kurasa, pelajaran sulit yang hanya bisa dituntaskan oleh manusia dewasa, adalah mengambil sebuah keputusan dan menyelsaikannya, sebagaimanapun beratnya itu.

Ketika aku memutuskan pergi. Memulai sebuah buku baru, berarti aku mengundang entah berapa ratus tokoh baru didalamnya. Tapi ketika buku itu harus habis juga, akankah aku kehilangan mereka? Dan lalu pulang ke kota berjedral ini. Melewati jalan-jalan yang sudah ramah di mataku. Memulai segalanya lagi, ketika kota ini sudah jauh berotasi. Meninggalkan aku yang pulang dan sudah berbeda pula.

Kadang aku berpikir untuk berhenti berotasi. Tidak bisakah kita tinggal? Diam dan tak berubah? Mungkin benar yang mereka bilang. Satu-satunya di kolong langit ini yang tidak berubah adalah matahari. Matahari yang selalu terbit di pagi hari dan padam di senjanya. Tapi sebenarnya, karena mataharilah kita berubah setiap waktu. Matahari mengubah kita. Mengubah semua yang kita tinggalkan.

Kadang semua hal tentang perubahan itu membuatku takut. Pengecut untuk maju, meninggalkan dan maju. Juga takut kalau nanti aku ditinggalkan dan akhirnya tak seorang pun tersisa kecuali aku dan mentari.

Lebih takut lagi, kalau nanti aku merindukan diriku yang sekarang dan aku tak bisa menemukannya. Mau kutanya pada siapa lagi kalau diriku saja tak kutemukan, kalau ia berubah dan tak dapat dikenali. Menurutmu, akankah si Jendral Menghormat masih akan mengenaliku?

Selasa, 23 Februari 2010

Obrolan Pagi

“Ayolaaah, biarkan aku menyelsaikan masa remajaku yang tinggal sebentar lagi ini dengan normal...” kataku frustasi kepadanya di sebuah pagi yang panjang. Dua ronde perbincangan tentang hal-hal besar yang menghabiskan dua cangkir kopi dan beberapa batang rokok. Mengantar pagi dari mengulet, sekarang sudah benar-benar bangun.

“Itu sebabnya hanya kamu yang masih bisa ku-optimiskan” Katanya sambil tertawa ringan dan menghebuskan kepulan asap putih rokok ramping perempuan.

“Oh godamn, I dont wanna this anymore. Semua itu hanya siklus, semua itu sudah mati sayang. Enggak ada yang namanya kesuksesan karena idealisme. Yang ada hanya siklus kesuksesan dari mereka-mereka yang beruntung. Lihat kemerdekaan, sumpah pemuda, apalah...” Ujar lidahku menyesal, kalimatku ini akan membawa kami ke diskusi yang semakin panjang dan melelahkan.

“Ayolah... dibutuhkan orang-orang macam kamu untuk bisa mengubah dunia.” Katanya lembut.

Hahahaha.. tawaku hambar. What a cliche.

“Apa rasanya jadi impoten?” tanyaku

“Ha? Impoten? Aku belum impoten kali” sahutnya.

“Apa rasanya tahu banyak hal yang salah, tahu bagaimana cara membetulkannya, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Terkekang oleh perut dan realitas.Kupikir, banyak orang-orang yang seperti itu, apa lagi di generasimu.” Menerawang aku memperhatikan asap-asap di atas kepala yang membaur dengan udara.

Kau Selalu Dengar Ya Ternyata?


“Have you check your GPA?” sebuah pesang singkat masuk dari kawan sekelasku.

Hah? GPA keluar hari ini? Kupikir masih minggu depan, tiba-tiba aku dilanda kepanikan.

“Nope, have you?” balasku cepat, aku sedang di angkutan umum, memegang computer genggam seharga satu motor bukan hal yang baik untuk dipamer.

“Okey, check then. Call Ms. Lita, she’ll help you” Teman sekelasku yang baik itu memberikan nomor telepon untuk menanyakan daftar nilai akhir itu.