Tampilkan postingan dengan label merah kesumba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merah kesumba. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2009

Menaklukan Hati

Sunday, May 10, 2009


Baru aja siang itu gw melintas di perumahan mewah dekat rumah gw. Dan diiringi angin kencang karena ojek yang malaju kencang, gw berbisik 'aku bersyukur Allah ku!'. Bukan karena gw salah satu pemilik rumah super mewah yang dijaga polisi militer disitu. Tapi karena gw sadar, gw punya banyak penjaga hati yang patut disyukuri semua orang yang memilikinya. Gw punya sahabat-sahabat yang saling memiliki, yang gak perlu takuti kalau mereka bakal pergi. Gw punya cowo yang sayaaaaang banget sama gw. Punya orang tua, yang walaupun ga sempurna, tapi gw tau seberapa besar effort mereka untuk jadi good parent buat gw dan adek gw. Gw punya keluarga tambahan, yaitu keluarga merah yang isinya bukan cuma sekedar sahabat, tapi mereka kakak, saudara seperjuangan, teman berbagi ide dan yang terpenting, mereka teman untuk saling mengasah.
Masih sambil ojek melaju kencang, gw berpikir. Apalagi yang harus gw minta? Bagaimanapun gw mendengar, walaupun suara itu halus dan tidak mengancam, ia hanya memperingatkan 'roda yang sedang diatas, akan segera dibawah'. Seketika gw menunduk menatap aspal. Seandainya...... seandainya motor kehidupan ini dapat berhenti di tempat. Di tempat ini sekarang....

***



POST ini hanya untuk konsumsi pribadi. Tolong kalau anda mau baca, jangan dipikir, jangan dianalisa. Cukup baca dan lewatkan. Karena tulisan ini adalah bagian dari proses yang harus saya lalui.



















"Gw pernah pacaran sebelum ini, dan gw punya standar sekian ketika pacaran sama yang sebelum dia, dan gw sama dia ini... standarnya dibawah dari pacaran gw yang sebelumnya. Sama mantan gw yang itu tuh emang hubungan yang paling dalam buat gw, disitu gw bener-bener ngerasain arti cinta lah. gw masih sayang banget sama dia, gw ga bisa ngebunuh perasaan gw sama dia. Tapi yaudah akhirnya karena emang keadaan, gw ga bisa lagi sama mantan gw ini. Gw bukannya ngebandingin sama dia sekarang.... tapi.. ya gimana ya... bukanya gw gak mau berproses. tapi buat apa pacaran gitu kalo misalnya gw kaya gini terus. Belom lagi waktu ternyata mantan gw ini ada apa-apa sama abangnya dia, gw cemburu dong! dan gw gak ngerti ada politik apa antara dia dan abangnya, misalnya untuk ngejauhin gw sama mantan gw gitu... Dan mantan gw ini sama dia sekarang deket, sering ngobrol. Bermula dari waktu itu dia kenalan sama mantan gw di FB dan chatting waktu gw lagi berantem, dia sempet ngeraguin gw. Tapi tau ga? si mantan gw ini baik banget... dia tuh ngeyakinin dia untuk ga putus sama gw. Gw pernah pacaran sama banyak cewe, tapi kelebihan cewe-cewe yang pernah gw temuin, semuanya ada di mantan gw yang itu. Yaaaa dia juga punya kelebihan... tapi yaa gimana ya..gw juga bingung."

sakit....


sakit....


sakit....


Sorenya sahabat-sahabat gw dateng ke rumah. Satu hal yang gw tanya mereka,, Apa yang harus gw rasain sekarang?? mereka jawab lo yang tau kali lo tuh ngerasain apa... tapi buat gw, hati gw lagi kram, hahhahaha kram hati, lucu juga. Gw ga tau harus ngerasain apa.. harus gimana. Yang gw tau.. gw sakit.

Satu hal, gw orang paling munafik sedunia, paling naif sedunia. Tapi naif dan baik hati bedanya setipis selembar tissue. Gw gak tau apa yang sesungguhnya gw mau, Gw emang berteman baik sama mantannya, yang kodratnya mestinya enggak. Gw rela kalo emang dia gak pernah bisa sayang sama gw sesayang dia sama mantannya, rela kalo gw emang bukan cintanya, bahkan gw mengijinkan, kalau dia masih mesra banget sama mantannya, masih telponan, smsan, berhubungan baik deh pokoknya sama mantannya itu. Sampai gw ga tau kapan, semua kenaifan gw itu menusuk gw sendiri, perlahan. Sampai gw gak tau dimana rasa sakitnya.

Perempuan mana sih yang gak sakit, ngeliat cowonya, yang officialy miliknya, masih wall-wall mesra sama cewe laen, dan yang lebih parah, sama cewe yang elo tau, itu cintanya. Siapa yang gak sakit... Tapi bukankah itu usaha, ketika gw mau belajar memberikan toleranti-toleransi dan gw belajar mengerti, belajar menerima kalo emang perasaan ga bisa dibunuh. Apa itu bukan artinya gw belajar sesungguhnya arti cinta, karena cinta itu memampukan kita belajar.

Gw pengen banget bisa dengan mudah, bilang : yaudaaa lah ya.. cowo masih sejuta di luar sana, lepasin aja.. ribet banget. Toh lo gak bakalan kawin sama dia kan?

BUkan itu! bukan karena dia laki-laki tercakep sedunia, atau dia laki-laki paling kaya sedunia sehingga gw gak mau ngelepasin dia. Tapi gw pernah berkomitmen, bahwa gw mau belajar untuk menjalani ini semua dengan tujuan gw mau jadi orang yang lebih baik. Dan itu didalamnya, termasuk komitmen bahwa gw harus belajar sakit hati, dan belajar mengatasi sakit hati. Yap.. itu pilihan.
Di satu sisi, in tantangan. Dan gw selalu suka tertantang. Terntantang untuk bisa mengatasi segala rasa sakit. Dan ini salah satunya, kenapa gw tulis di blog, Biar gw baca terus-terusan sakit sih.. setiap kali baca dan setiap kali itu juga berdarah. Tapi justru karena itu gw belajar mengatasi rasa sakit hati.

Tapi terus????? Mungkin juga dengan ini, perasaan gw bisa mati dan padam. Lalu dengan mudahnya gw bisa melepaskan dia. Atau mungkin dengan ini gw berhasil menaklukan hati gw sendiri.

Tuhan ajar aku taat, aja aku untuk mau belajar. Pecut aku agar aku tekun. Tuhan aku merasa sakit. bertanya-tanya kenapa aku gak pernah bisa dicintai seperti orang lain. Tapi lalu aku menampar diriku sendiri dan berpikir. Betapa aku gak tau diri! Engkau telah memberikan aku banyak hal yang bodoh bila aku tak syukuri. Maaf kan aku... kalau aku masih merasa sakit dan belum juga puas disayang. Maafkan aku.. kalau aku gak sempurna dalam hal mengasihi seperti yang Kau ajarkan. Maafkan aku... karena aku ga bisa jadi sebaik orang lain. Dan aku munafik. tapi Allah... percayalah.. aku mau belajar. Dan kuatkan aku untuk dapat belajar dan mengatasi segalanya ini. Kalau memang dia bukan yang terbaik untukku, biarkan aku lalui sakit hati ini dengan cepat, dan ajar aku untuk dapat mengambil segalanya yang baik untuk diriku dan melepas segala yang buruk, tanpa dendam. Amin.



Aku Ikut Tersenyum Ketika...

Saturday, February 14, 2009


"Selamat hari kasih sayang" kalimat itu seperti mantra diucapkan seharian ini. Entah berapa ratus kuntum aku antar sepagian ini, entah berapa kotak kue dan cokelat berbentuk hati yang kubagikan siang ini. Sambil terus tersenyum dan mengucap riang "selamat hari kasih sayang..." dan sekali-kali ikut menyanyikan lagu-lagu cinta yang berkumandang tak henti-henti hari ini.

Take me to your place
Where our heart belongs together
I will follow you
You're the reason that I breath

I'll come running to you
Fill me with your love forever
Promise you one thing
That I would never let you go
'Cause you are my everything

Aku ikut tersenyum setiap kali kulihat kuntum mawar-mawar yang kemarin masih tidur, kini telah mekar indah. Keindahan yang menandingi indahnya cinta yang dibagikan, tercecer-cecer di sepanjang koridor kelas-kelas, lapangan, bahkan setiap penjuru kota hari ini. Aku tersenyum, setiap kali aku mengantarkan cinta pada teman-temanku, cinta dari orang-orang yang menyayangi mereka dalam bentuk bunga, cokelat atau kue. Aku ikut tersenyum ketika nyanyian lagu-lagu indah dinyanyikan penuh cinta kepada seorang temanku..
Aku ikut tersenyum, walaupun hatiku ku tersedu dalam bisu..

Walau mentari terbit di utara
Hatiku hanya untukmu...
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu


Aku melewatkan banyak hari merah muda sendiri namun hatiku pun tersedu bukan karena tak sekuntum pun datang untukku hari ini. Tapi sunguh rasanya tak terelakkan karena sekali lagi aku sampai pada sebuah pemahaman yang menyakitkan. Dan mereka sahabat-sahabat gaibku, sebagian dari mereka menyenderkan kepalaku di bahu mereka, ikut sedih merasakan luka ini. Namun sebagian lagi, tersenyum sinis mengejek dan melemparkan sorot pandangan 'sudah kubilang kan?...'. Aku pun tidak peduli, dalam dekap mereka aku menangis sejadi-jadinya, mengadu pilu tanpa malu, tanpa perisai-perisai harga diri yang selama ini kujunjung tinggi.

Sore ini, bergegas dari rumah seorang teman yang sedang sakit, aku menenggelamkan jiwaku di kamar yang penuh merah muda. Sudah lama aku tak merasakan sakit yang seperti ini, rasa sakit yang begitu menusuk sampai rasanya setiap aliran darah tubuhku mengandung racun-racun rasa sakit yang menyatu dalam leukosit dan eritrosit darahku. Sakit sampai aku merintih tak lagi bisu, kudekapkan bantal ke wajahku, mencoba memendam segalanya. Tidak berhasil. Sakit. sakit di dalam tubuhku yang tak dapat kujelaskan. Kecuali dengan air mata.

Aku merasa rapuh, runtuh, dan terluka. Terlebih itu, aku marah. Marah pada bodohnya diriku yang membiarkan aku percaya pada mimpi-mimpi. Bertahun-tahun sejak aku mengerti arti kata sakit yang sesungguhnya karena apa yang kulihat dan kudengar, aku telah membangun benteng pertahanan terkuat. Dan lalu tiba-tiba dia datang, menyusup ke dalam sistem pertahanan itu, lalu membuatku belajar percaya bahwa mimpi itu mungkin masih ada...
Dia datang menambal lubang-lubang yang dibuat oleh ayahku, kakekku, dan semua laki-laki yang pernah ada dalam hidupku.

Lalu dalam sebuah semburat malam, saat awan melukis wajahnya dengan sinar bulan keperakan ia menghancurkan segalanya, menoreh luka yang dalam berdarah di rapuhnya aku tanpa benteng pertahanan. Hancur segala bangunan mimpi yang menambal lubang-lubang kosong itu, bahkan ia berhasil melubanginya jauh lebih dalam. Di tengah keruhnya caruk maruk perasaan, pikiran serta seribu tanda tanya sekaligus jawabannya bercampur baur dalam jiwaku. Malam itu aku pergi tanpa tangis, aku berhenti berpikir, berhenti merasa, berhenti bicara.. Yang kubutuhkan adalah pergi sejenak dan berharap terbangun esok pagi dalam dunia yang tak kukenal.

Sore ini, setelah selesai menumpahkan segalanya dalam bisu. Kelelahan dan terbaring pilu menikmati rasa sakit itu merambat perlahan seiring darah yang mengalir dari luka yang masih basah... aku mulai berpikir. Menulis untaian kata yang masih juga belum cukup dan tidak akan pernah cukup menceritakan rasa yang ada. Tumpah... tidak lagi dalam air mata, tapi dalam sebuah getar ketegaran.

Angin membawa kelopak-kelopak mawar yang mati senja ini
Semerbak wangi cinta dalam segala keagungan kasih
Menggantung rendah di udara pagi ini
Menyusup ke dalam kamarku melalui jendelanya yang terbuka
Belaian angin berhembus perih pada luka
Tapi seperti yang dikatakan mereka di luar sana
Berani mencintai, harus berani dilukai
Dan usai tangis ini,aku menentang angin cinta tanpa lagi bimbang
'Aku berani' sahutku pada mereka...

Maaf... aku masih sangat merasa sakit. Kucoba untuk lebih rasional. Menulis untuk mengurai buraian dalam kepalaku yang masih ruwet. Aku memang butuh waktu untuk berpikir dan mengurai secara rasional.. Aku ingin menanyakan seribu tanya, mencari seribu jawab tentang aku, bukan tentang dia. Maka biarkan aku diam dulu disini, menanti sakit ini reda. Dan lalu aku berjanji untuk mengolah segalanya, menemukan jawaban dan merangkainya. Agar kutemukan apa yang kunanti...



Bab 2 : Filosofi Pasir


Friday, January 23, 2009



Blogger Warning : Blog ini mungkin mengandung unsur-unsur feminisme yang sangat pekat, yang mungkin tidak dapat ditolerir beberapa manusia non-feminim. Mungkin juga dapat menyebabkan menangis, tertawa, muntah, keinginan untuk mencerca, keinginan untuk mencinta dan komplikasi lainnya. Post ini mungkin tidak baik dikonsumsi oleh orang yang mengidap penyakit dunia no.5 yaitu sarkatisme dan apatisme terhadap cinta.









***

Cinta itu seperti pasir dalam genggaman tanganmu, semakin keras kau mengenggamnya untuk mempertahankannya, semakin banyak juga cinta yang keluar melalui sela-sela jemarimu, akhirnya hilang ditiup angin yang berhembus ketika kamu membuka tanganmu dan sadar segalanya telah terlambat. Namun biarkan pasir itu di jemarimu, maka ia akan tetap disana sampai angin nasib yang akan meniupnya. Begitu pula cinta, genggam ia dengan segala daya kekuatanmu maka ia akan pergi. Namun biarkan cinta itu dengan menghargai kebebasannya, maka ia akan tetap disana...

<3 <3 <3

Pernah dengan filosofi tentang pasir? Yeaph, mungkin gw adalah pengikut Paham Pasirisme yang cukup konservatif. Gw percaya bahwa tiap manusia dilahirkan dengan kebebasan penuh, sepenuhnya tanpa dibatasi oleh manusia lainnya. Tapi hidup ini penuh dialetika kan? dan gw pun berubah dinamis mengikuti bentuk-bentuk yang juga belum berbentuk. Karena memang seperti itulah kabut hidup, tak berwujud dan terus berubah. Apalagi ketika seseorang datang menyibak kabut itu dan membuat setiap wujud didalamnya bergerak-gerak mencari bentuk lain dari pribadinya....

OK.. mari kita lihat kronologisnya, menganalisa setiap detail kasus yang dapat membuat gw mengerti 'oooh ini toh salahnya, ooooh ini toh yang gak boleh..'
Malam itu seperti setiap malam, kita telponan (mengingat suaranya sangat adiktif dan akhir-akhir ini tidur itu sulit tanpa lullaby napasnya...). Pembicaraan berawal dari sekedar omongan rencana beberapa hari ke depan, dari pembicaraan rencana jadwal harian itu, gw jadi sadar dia harus pergi PKL sebentar lagi.

"wah bentar lagi aku PKL..."
"oooh, kamu PKL berapa lama sih?"
"6 bulan"
"jadinya kemana? udah tau belom?"
"yaaa maunya sih ke malaysia... eh! tapi apa ke Jakarta aja yaa biar bisa nemenin kamu?"
"yaaa jangan laaah.. malaysia aja" **di Malaysia dia bisa dapat lebih banyak kesempatan yang lebih baik daripada disini**
"ato gak tetep di bandung aja kali ya... biar gak jauh-jauh amat"
....

Gw gak bermaksud mengkambing-hitamkan ngantuk, tapi serius kali itu otak gw benar-benar low battery dan filternya pun mati. Dengan santai dan tanpa alasan yang jelas, bahkan gw hampir gak tau tujuan pertanyaan gw ini, gw melanjutkan pembicaraan diatas dengan bertanya...
"Nanti pas kamu PKL, apa kamu mau kita break dulu?"
**berubahan nada yang drastis dari suaranya** "Yeee.. ngapain break, udahan aja gak usah balik-balik kalo gitu maaah"
"Jadi kamu maunya putus?"
..diam...
"Kamu mau kita putus???" Dia mengulang pertanyaan gw..
"LHO! Gak gitu kali maksud aku...aku cuman gak mau jadi pagar kamu aja. Kamu 6 bulan disana, kamu akan ketemu banyak orang disana. Aku gak mau ngebatasin kamu disana... Alasan yang sama seperti ketika kamu ngelepasin Nad (mantannya yang udah pergi ke luar negri), aku cuma mau adil, aku mau ngelakuin apa yang kamu lakuin ke Nad, gak maksain dia dan mengikat dia disini.."
..diam...
"Udah deh, aku ngantuk. Aku mau tidur!" Dan dia pun menutup telpon.

Gw baru sadar dia benar-benar marah ketika besok paginya. Gw inget-inget lagi nada suaranya dan gw sadar dia marah banget. Pagi itu gw sms, minta maaf.. dan gw sms lagi siangnya untuk ngingetin dia makan seperti biasa, tapi dia juga gak bales... Gw sempet ngobrol-ngobrol dengan sahabat-sahabat gw dan menurut mereka gw salah. OK.. gw tau gw salah dan menyesal.. tapi serius hari itu nyiksa banget. Gw gak berhenti melahap soal-soal fisika dan matematika hari itu, karena kalo konsentrasi gw lepas, gw pasti keinget dia dan itu rasanya sakit banget.

Setelah dianjurkan banyak sahabat dan abang-abang gw, gw telpon dia. Berusaha memakan ego gw yang biasanya segede bagong dan mengalah. Gw cuma berusaha mengingat perkataan sahabat gw 'Lo jangan sampe ikutan emosi juga Vy, ayooo ayo tetep dibawah, kalo lo ikutan naek abis cerita deh...'. Dan sore itu pun gw menelpon dia, setelah menelan semua harga diri seorang Ivy. Walaupun masih agak bimbang, apakah lebih baik gw kasih waktu dia untuk nenangin diri, atau selesaikan masalahnya...

"Halo...kamu masih butuh waktu ato kita mau omongin sekarang?"
"Omongin apa lagi sih??? udah gak ada lagi kan yang bisa diomongin!"
"Jadi kamu maunya apa?"
"Gak tau."
"Kamu marah sama aku?"
"Gak"
"Kamu kecewa sama aku?"
"Iya."
"ok.. kecewanya kenapa?"
"aku kecewa sama statement kamu kemaren."
"Okay... aku salah.. tapi kan aku udah minta maaf... dan aku udah jelasin kenapa aku ngomong gitu.."
.........diam........ serius gw bener-bener pengen marah, nangis, teriak, emosi gw stuck di jantung..
"jadi kamu gak mau maafin aku?"
"APA sih yang perlu dimaafin???"
Dan selama beberapa waktu pembicaraan itu berulang terus sampai ada titik dimana gw bener-bener gak tahan, suara gw udah tinggi, tapi kemudian gw sadar, gw melempar headset dan mendekap bantal di mulut dan teriak-teriak sekenceng-kencengnya. Setelah itu gw melanjutkan pembicaraan dengan menurunkan nada suara serendah yang gw bisa.

"Buat APA pacaran kalau akhirnya putus? mending udahan aja sekarang, daripada nanti lagi udah keburu dalem udah susah pisah!"
"Jadi kamu mau putus?"
"YAAAA gak! tapi kalo kamu yang mau?!"
"Aku gak bilang aku mau putus!" Teriak gw frustasi...
"yaaa itu kamu bilang mau break atau putus aja pas aku PKL! Mana komitmennya? Kita pacaran atas dasar apa sih??? Kita udah deal kan, untuk komitmen! Sekarang mana??? kalo cuma gara-gara PKL kamu bilang putus atau break!"
"Aku gak bilang mau putus atau mau break.. Justru aku nanya kamu, kamu maunya gimana? kan kamu yang mau pergi... "
"Ya enggak lah.. udah deh gak usah dibahas.. males tau gak!!"
Sakit sih denger itu, tapi serius... kadang gw kagum sama otak gw sendiri. Sahabat gw, Rasionalitas langsung mengambil alih kendali diri gw untuk tetap ada di jalur. Ibarat itu pesawat mau jatuh, programnya langsung kesetel : AutoPilot...

Gw benar-benar merasa bingung. Gw jadi kehilangan pegangan mana yang seharusnya dan mana yang tidak. Dengan setulus-tulusnya gw benar-benar bermaksud untuk gak jadi pagar dia. Sebagai penganut paham filosofi pasir, gw hanya mau menghargai kebebasan dia untuk bertumbuh lebih subur dan mendapatkan kesempatan seluas-luasnya tanpa dibatasi tembok apapun, apalagi tembok cinta dan pacaran. Secara teknisnya, gw gak mau dia mengorbankan PKLnya yang berharga demi gw dan dia gak serius untuk ngambil yang di Malaysia itu, walaupun dia tau, di antara tempat PKL lain, Malaysia tempat dia paling bisa dapet banyak kesempatan belajar.

Setelah dia agak sedikit lebih tenang dan emosinya udah turun. Gw ajak dia ngomong lagi...

"Aku cuma berusaha pake filosofi pasir kok, aku gak maksud ngelepasin kamu. Gak maksud gak punya komitmen sama kamu.."
"Kamu tuh salah sekarang ya dengan komitmen ini yang aku pegang, pasti akan ada batas-batasnya dong.. gak boleh terlalu perhatian sama orang lain, gak bisa terlalu deket..."
"NAH ITU dia yang aku gak mau.. aku gak mau ngebatasin kamu. Apa gak lebih enak buat kamu, kalo kamu kesana tanpa pengikat apapun. Kamu bisa membuka diri dengan siapapun. Mungkin kalo nanti kamu dapat yang lebih baik dari aku.. kamu gak dibatasi dengan apapun untuk itu..."
"Kamu SALAH! Itu dia yang kamu salah ngerti, kamu sih pake filosofi pasir... tapi itu justru kenapa aku mau punya komitmen. Aku mau dibatesin, aku mau punya batas. Kalau aku gak punya batas, dan terus mencari yang lebih baik, sampai kapan aku mau berenti? Gak akan ada batas buat yang lebih baik... Justru karena itu aku komit sama kamu, aku mau aku dibatasi dan gak terus lagi nyari yang terbaik..."

Gw gak tau, gw harus melayang bahagia atau malah sedih mendengar hal itu. Mungkin gw seharusnya bersyukur atas dia. Menurut abang-abang gw, cowo wujud gini tuh jarang dan dicari lho! Oooh... gw jadi bingung antara kebebasan dan komitmen. Dimana sumbu pembatasnya? Semakin kabur dan semu batas antara dua hal itu. Gw berusaha memberikan kebebasan, katanya gw gak punya komitmen... Gw cuman takut, ketika gw secara gak gw sadari akan mengikat orang lain dan lalu hal yang paling gw takuti terulang kembali : berhenti DIcintai... (selebihnya tentang ini akan dilanjutkan di post berikutnya..kepanjangan.. mumet bacanya :D)

Kemarin malam, gw curcol-curcol dalam sama abang dan temen-temen gw di undakan depan kantor. Abang gw bilang, mungkin si Tuan Merah ini begitu karena alasan-alasan tertentu dari latar belakangnya dia. Dari latar belakang keluarga dan urusan cinta masa lalunya dia. Yang entah mengapa, semuanya ditumpahkan di gw.. Gw sama sekali gak keberatan sih, bahagia dan bersyukur malah kalau dia serius (gw harap dia bener-bener serius dan komit seperti yang dia bilang) walaupun apapun juga deh ketakutan gw..

Jadi intinya adalah kali ini gw belajar banyak hal. Dari hal teknis sampai filosofis..
Secara teknis, gw belajar menelan ego dan keangkuhan untuk kebersamaan. Dan ini hal yang sulit. Gw tau dalam hubungan ini, banyak hal yang sebenarnya gw melawan grafitasi diri gw sendiri. Bukannya gw mau berubah dan akhirnya berhenti jadi diri gw sendiri ketika gw sama dia, tapi gw mau belajar jadi pribadi yang lebih baik. Bukan baik buat dia, tapi baik buat diri gw sendiri... Gw belajar ngecilin ego, belajar lebih perhatian, belajar toleran, belajar sabar, belajar menghadapi orang yang lagi emosi sedangkan gw-nya gak boleh sampe kepancing, belajar percaya sama orang, belajar belajar dan belajar... belajar memegang komitmen tentunya.

Intinya adalah gw harus bilang sama Tuhan, gw bersyukur.. bersyukur banget. Seperti yang setiap malem gw bilang sebelum gw tidur.. "Tuhan, makasih ya buat dia...makasih buat hadiahnya, hadiahnya indaaaaah banget.. gak kebagusan apa buat aku, Tuhan?? Ajar aku yaa supaya bisa mencintai dengan tulus dan lebih lagi..."
Bersyukur untuk dia, dia datang menyibak kabut hidup yang selama ini pekat menutupi pandanganku terhadap sang adam. Yang dengan suaranya membawakan pribadi lain yang belum pernah kukenal sebelumnya. Dan aku bersyukur karena dapat belajar mencintai dia...

Bab Pertama : Cinta dan Ketulusan

Thursday, January 8, 2009


Waaah. winter pertama.. hahhaha.. kalau ibarat love relation itu seperti musim-musim yang berganti.. berarti kejadian kemaren adalah winter pertama. Hahaha.. Post kali ini akan jadi sesuatu yang mellow-comedy-dramatic.. jadi bersiaplah untuk muntah, menangis atau tersenyum-senyum sambil menggelengkan kepala kalau memutuskan untuk scroll ke bawah... OK??



***




Cinta itu seperti bisa ular yang meresap melalui celah-celah hati. Membuat pandangan kabur dan lalu semuanya terasa begitu abstrak. Bahkan aku tidak bisa lagi mendefinisikan kalimat-kalimat itu kedalam kata yang lebih definitif. Semua seperti tertutup kabut. Seperti kabut yang turun dari angkasa, mengambang mengawang-ngawang di atas danau situlembang kemarin, ingat hari itu? Dingin dan tidak jelas..

Cinta.. yang kita perlukan hanya hati untuk merasakan.
Cinta tidak butuh mata, tidak juga butuh telinga...
tapi butuh segenap jiwa untuk mengerti.
Sedangkan aku.. aku bukan pengguna kata cinta. Tidak.
Tapi kadang aku tidak dapat berkelit lagi, tidak ada kata lain untuk mengatakannya kan? C.I.N.T.A...

***

Kadang gw terpaksa harus jadi mellow-dramatis *sosok yang gw benci* untuk bisa jujur sama yang namanya blog. Hahahahah... tapi serius, kemarin gw baru saja merasakan kabut di hubungan gw sama dia (gimana kalau mulai sekarang kita panggil dia Si Merah, karena dia berhubungan banyak dengan warna merah.. sudahlaah.. ikuti saja. Ya?! hahaha).

Berawal dari fakta yang gw temukan tiba-tiba bahwa dia masih sayang sama mantannya. Gw tahu sebenarnya, bahkan awalnya gw pikir dia masih punya pacar. Jadi hubungan dia dan mantannya ini gw udah tahu. Tapi sesuatu yang baru, yang gw temukan dia masih sayang banget dan putusnya itu bukan karena mau tapi harus. Gw baru tau tuh.

Awalnya gw kaget waktu dia ternyata masih kontak-kontakan sama mantannya itu, bahkan di hari gw jadian sama dia.. Kaget sih, tapi gak bete. Entah kenapa waktu gw tau itu, dan siap ngerasain sakit, bahkan untuk sedetik dua detik, gw sempet berpikir 'ouch sakit.. mana nih sakit? mana nih sakit?'. Eh ternyata rasa sakit itu gak dateng-dateng. Yang tiba-tiba muncul adalah pikiran jernih dan pertanyaan menuding 'emang kenapaaa kalo dia sama mantannya???' .
Wow... gw menemukan karakter yang belum pernah gw jumpai sebelumnya dalam diri gw sendiri. Rasional.

Akhirnya gw memutuskan.. yaaa sudahlah.. Gw gak akan bisa jadi orang yang ngegantiin si dia di hati cowo gw sendiri. Dan gw juga gak mau.. Gw memutuskan untuk belajar menjadi seseorang yang bisa mencintai dengan rasional tanpa perasaan posesif yang berlebihan. Salah enggak sih? Kalau dia sayang orang lain selain gw cewenya, dan kalau ada orang lain yang sayang sama dia selain gw, dan keputusannya adalah gw menjawab itu enggak salah. Gw tau dan gak mau maksain berenti, kalau mereka masih saling sayang banget....

Jadi dengan membesarkan hati, gw ngobrol-ngobrol sama mantannya itu. Awalnya emang agak berat sih, tapi gw benar-benar mencoba untuk tulus dan besar hati. Gw juga gak mau membohongi perasaan gw sendiri.. tapi gw mau mendidik perasaan gw untuk gak jadi manusia egois-posesif. Dia itu gak tergantikan, dan gw gak akan maksa ngegantiin. Gw pun gak akan berusaha ngegantiin. Jadi gw minta sama si N (mantannya itu) untuk jangan pergi secara mendadak dari cowo gw gara-gara gw, karena pasti dia bakal kehilangan banget di orang yang dia sayang itu kan?

Beberapa teman gw komentar, wiiih Vy lo sih gila banget.. gak sakit apa?? Gw jawab dalem hati, sakit sih sebenernya...tapiiii gak juga ya.. gak kerasa, gw cuma mau belajar jadi yang terbaik, mau belajar memahami, mengerti, peduli sama perasaan orang lain. Bukannya itu tujuan gw mau punya pacar, untuk belajar banyak hal tentang hubungan personal 2 mahkluk. Dan satu lagi, gw pengen bisa tulus. Bukan hanya sekedar belajar karena gw mau. Tapi benar-benar dari hati. I know it takes a lot to sacrifice thing we love, but believe me its beauty is worth enough to pay the hurts...

Ternyata pengertian dan ketulusan gw belum cukup. Tapi semua itu emang harus diuji kan? berawal dari bincang-bincang yang gw tahu gw salah memulai perbincangan ini. Entah kenapa, orang ini yang kebetulan tau sejarah si cowo gw dengan mantannya, mengatakan sesuatu yang intinya memberitahu gw bahwa gw cuma pelarian saja.. Dia sedang jadi lone ranger patah hati ketika gw datang dan membawakan sesuatu yang dia butuhkan.. hmm.. serius, kali ini sakit bo!...

Gw cuma mikir malem itu, mungkin kah gw harus ngelepasin dia (mumpung belom jauh) dan kembali di titik kita jadi sahabat, berenti jadi lone ranger.. nanti kalo udah selesai.. gw mungkin bisa dateng lagi tapi bukan jadi pelarian. Karena kalau emang gw hanya pelarian dan basic hubungan jarak jauh ini hanya sekedar pelarian dan kebohongan. Buat apa dipertahankan, hanya akan nyakitin nantinya kalau udah jauh dan harus berhenti. Gw gak mau nyakitin... gw gak takut disakitin.. gw takut nyakitin.
Terus gw digugat oleh diri gw sendiri. Hah?? mana?? katanya mau belajar mengerti, memahami, komitmen? kok berenti sampe sini?? aaaah.. kram otak.
Tapi setelah berbicara dengan beberapa orang, dari sahabat sampai kakak-kakak gw tercinta. Akhirnya gw mendapatkan sedikit pencerahan dan langkah-langkah yang harus dilakukan :

pertama, tanyain laaaah ke dia langsung. Yaudah.. gw tanyain deh.. tapi seperti yang gw bahas ke sahabat gw.. Apa juga pointnya dari gw menanyakan hal ini? apa jawaban yang gw mau? jawaban yang gw cari? Gw BUKAN pelarian?? Itu gak akan membuat gw puas dan lega kan..
Tapi toh gw tanyakan juga dengan ngedableknya. Dan gw pun gak bisa mendapatkan jawaban apapun dari dia...

Kedua, gw mencoba untuk berpikir jernih. Andaikan gw pelarian.. dan seperti yang gw bilang di awal, semuanya terlalu berkabut.. gak keliatan.. tapi ada satu hal yang bisa dengan jelas gw rasakan. Gw bisa ngerasain usaha cowo gw untuk sayang sama gw.. dan kerasa kok sayangnya tuh bertambah dari hari ke hari.. Kalaupun detik ini belum seratus persen, gw percaya dan ngerasain kalau tiap detik sayangnya bertambah sepersekian persen misalnya, tapi yang jelas itu tumbuh. Dan gw menghargai sekali usaha dia.. seperti yang gw bilang, gw gak mau membuat dia berhenti sayang dengan siapa pun yang dia sayang sebelumnya.. gw gak mau mengubah apapun dalam hidupnya, gw hanya mau menambah banyak hal dalam hidupnya.. contohnya rasa sayang.

Dan lalu gw ngobrol sama salah seorang kakak gw.. dia bilang sebuah statement yang agak berbeda dengan pendapat kakak-kakak gw yang lain. Kalau yang lain cenderung meyakinkan gw kalau itu gak bener, gw bukan pelarian dan blablabla.. dia bilang begini : " Dek, lo mungkin emang pelariannya dia.. tapi lo juga tau, dia memang butuh pegangan, kalo emang bener ceritanya pegangannya ilang waktu mantannya pergi. Nah sekarang.. tinggal di elo.. ikhlas gak jadi pegangan orang yang elo sayang? Sayang gak sih sama dia?"

Wedeh, gw jadi mikir nih.. waaaaah.. ini bicara ketulusan dan keikhlasan hati. Ribet daaah.. ukurannya sesuatu yang tak terukur. Tapi begini, yang mau gw katakan adalah... Gw mencoba untuk belajar, dan seperti yang Bunda bilang, akan banyak hal yang bisa dipelajari disini.. banyaaaaaak sekali. Disini juga gw bisa membentuk hati dan perasaan.. Mendidik diri gw sendiri untuk tidak menjadi egois.

Dan akhirnya sampailah gw di sebuah kesimpulan. Okei, gw terima konsekuensinya, gw tulus jadi pegangannya dia.. whatever gw pelariannya apa bukan, gw mau belajar mencintai dengan dewasa. Dan lagipula, seperti yang gw bilang di posting sebelumnya.. Dia itu hadiah dari Tuhan. Dan gw merasa, Tuhan mencintai gw lebih dekat lewat dia.. (yaaa enggak segitu mellownya...) tapi serius, gw melihat mata Tuhan menatap gw dimatanya, gw merasa dipeluk Tuhan dalam pelukannya.. Karena gw percaya cinta itu anugerah, dan dia telah dianugerahkan..
Jadi ya.. gw memutuskan.. di luar konteks gw pelariannya atau siapanya lah. Gw GAK mau peduli lagi, gw mau balas mencintai Tuhan yang udah mencintai gw. Dengan belajar mencintai hadiah dari Tuhan dengan adil dan tulus. Fair enough kan?? Gw juga mau menatap Tuhan lewat matanya.... jadi sekarang kita bicara tentang mencintai, bukan dicintai. Dan itu pelajaran tersulit, gimana caranya kita tulus mencintai... tanpa mikirin DIcintai..

Tuhan, ajar aku ya.... MENcintaiMu.. gak selalu minta DIcintai...



Aaaah.. Gak sakit!

Monday, October 20, 2008

Ya.......... time to let it go mungkin yaaaa. Seandainya aja langit memberikan satu saja bintang berwarna cinta untuk benar-benar masuk ke kamarku. Bukan cuma mengintip dari tirai di gelapnya malam.

Hari ini ternyata aku tahu kalau semua itu bukan aku. Setelah semua hal yang terjadi dan itu bukan aku. Apa sih rasanya? Kupikir aku akan nangis, marah, sedih dan kecewa kepadanya. Tapi seperti setiap kali aku menorehkan mata pisau, rasa sakit yang muncul tidak pernah sesakit rasa sakit yang telah kutakuti. Begitu pula ini, tak sedikitpun aku merasa sakit. Kadang rasa sakit itu datang agak terlambat. Seperti matahari yang membakar tanpa rasa sakit.

Kalau aku masih boleh punya mimpi. Aku ingin langit tersenyum padaku. Dan membiarkan salah satu bintangnya memelukku sampai fajar lahir dan menelan bintang-bintang cinta itu...



Magic


Friday, September 12, 2008

You've got magic inside your finger tips
its leaking out all over my skin
everytime that i get close to you
your makin me weak with the way you
look through those eyes

I remember the way that you move
your dancin easily through my dreams
its hittin me harder and harder with all your smiles
you are crazy gentle in the way you kiss

All i see is your face
all i need is your touch
wake me up with your lips
come at me from up above

Oh baby i need you
to see me, the way i see you
lovely, wide awake in
the middle of my dreams

Lirik-lirik di atas ini adalah kutipan dari lagu Magic yang dinyanyikan Colbie Caillat.. Weiiiz.. kok kayanya liriknya full of body contacts yaaa? Buat sahabat-sahabatku yang lagi kasmaran. Asik sih ngedengerinya, gw mendapati beberapa teman yang gak bosan-bosan ngedengerin lagu ini. Soalnya katanya "lagunya pas nih di gw"... oooh begitu toh pikirku dalam hati.

Salah satu kata-kata kutipan dari buku jurnal sekolah gw.. "only if you are lucky, person you love will love you back" pas gw baca. Weizzz, cuma orang-orang beruntung aja dong nih.. gawat... gw beruntung gak yaaa?

Setelah gw amat-amati, iya juga yaaaa. Untuk objek pengamatan pada data kelompok umur 14-17 tahun. Mayoritas merasa beruntung dan menilai keberuntungan dari pembalasan cinta yang didapat (huaaalaaah apa pula itu kata-katanya).

anyway, yang gw hanya coba katakan disini adalah: bersyukurlah dan merasalah beruntung bagi kamu para kawula muda (beeh kaya prambors) kalau orang yang kamu cintai (RALAT: sayangi/sukai) membalasnya. Karena perlu diketahui bahwa keberuntungan itu (atau gw sih lebih suka pake kata 'berkat) tidak jatuh diatas kepala semua orang.

Seperti yang kemaren diutarakan seorang teman gw. "Buset dah! itu anak tuh biasa banget, orangnya juga gak baik-baik banget. Kenapa cowonya sayang banget ya?". Hmmm.. pertanyaan klise... (kata gw dalem hati) dari sebuah pertanyaan itu gw jadi belajar untuk percaya kalau perasaan itu adalah 'bless'. Gak bisa dicari, gak bisa dipaksa, gak bisa dibuat.... hanya bisa dianugerahi. Dan sepertinya gak setiap orang punya kesempatan untuk mendapatkan anugerah yang sama.

Gw sih cuma mikir (one last thought) enak banget yaaa kalo bisa ngerasain si lagunya colbie itu.. dan bisa nyanyi kaya temen-temen gw.. lalalala all i see is your face.. wake me up with your lips, come at me from up above.. yeeeaaaa..
Gw cuma pengen tau (sebagai pengamat -sosiologi-amatir dan sebagai objek pengamatan). Apa sih rasanya wanting by someone else? apa sih rasanya dimimpiin sama orang? Apa sih rasanya dicintai? Apakah lebih indah daripada mencintai seseorang???

***catatan penulis:
maaf yaaaa, kalo akhir-akhir ini kasus cinta merebak di blog ini. Abis lagi memecahkan misteri tak berujung tentang percintaan remaja siiih. BUSYEET DAAh ABG Bener sih gw!
Btw, gw lagi ABG mood : on niih.. Janji deh.. ketika bulan september berakir Ms Ipee akan berhenti bermimpi dan kembali meneliti dunia.. bukan sekedar dunia roman picisan.